Selasa, 20 Desember 2011

KORNEA MATAMU JINGGA


Kumandang tahajud memanggil.Wanita setengah baya itu tengah beradu pada asap yang menggempul.Bertaruh peluh demi sesuap nasi hari ini. Keempat anaknya yang sudah tahu arti malu masih belum juga bangun. Sepanjang hari letih membantu si ibu berjualan keliling,sekali lagi demi mengisi perut yang kadang hanya sekadar mengganjal perut.Kartini nama wanita itu, orang-orang memanggilnya Bu Tini.
Salah seorag anaknya sudah menjadi gadis yang telah menginjak bangku kuliah, mau tak mau, suka tak suka harus menerima kenyataan hidup ini. Menahan malu ditinggal bapak kawin lagi, lalu menahan pahit harus tetap bertahan dalam rumah yang tak layak pakai.
Tragis!Hidupnya belum kunjung berubah.Bau menyengat lumpur bekas orang hajat tercium di halaman rumah itu.Amis. Ditambah lagi bau kotoran kuda peliharaannya. Tak akan ada yang sanggup bertahan lama berada dalam rumah itu. Tapi heran, begitu tangguhnya wanita itu dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Pagi sekali Bu Tini akan bernyanyi sendu menjajakan kue milik Bu Romlah,tetangganya.Khas sekali suaranya. Kadang, anak-anak orang kaya itu membelinya, tapu tak jarang kadang hanya menyindirnya, lalu meninggalkannya begitu saja. Peluh keringatnya mulai nampak, kedua anaknya yang masih SD, Lilis dan Gun, lalu abangnya yang baru saja tamat SMP, Muhlis, dan anak gadis tertuanya, Mirna, yang kebingungan belum mengumpulkan tugas.Hanya satu alas an: belum cukup uang!
Mereka datang satu persatu menagih uang jajan, walau itu pun hanya 500 sampai dengan 1000 perak saja.Tak apa.Yang penting perut tak kosong sama sekali. Sedang Muhlis pagi sekali harus menjadi kusir delman sebelum berangkat sekolah, lalu Mirna akan mengambil jalan pintas memotong petak demi petak sawah untuk sampai ke universitas tercinta. Begitulah tiap harinya, hingga raga ini letih menyaksikannya.
Setelah seharian berjualan keliling,dari satu kantor ke kantor lainnya, sekolah ke sekolah lain, rumah ke rumah, dan kemudian Bu Tini kembali pulang.Suaranya parau setelah seharian berteriak. Wajahnya lesu karea tak terjamah air sama sekali.Lalu bajunya kusut setelah seharian bertaruh dengan debu dan angin semesta. Namun, senyum itu masih terus mengembang, seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Kedua anaknya menyambut bahagia, berharap masih ada sisa kue milik tetangga yang tersisa. Lega, masih ada satu yang tersisa; kue lapis.Mereka berebut.Geli.Si ibu melerai.Dibagi dua, lalu merekapun bermain lagi.
Namun kali ini tak ada sisa kue yang harus mereka jajakan lagi. Muhlis belum kembali mencari nafkah, sedang Mirna masih di sekolah. Upah hari itu alhamdulillah kurang lebih Rp 100.000.Dimasukannya sebagian ke dalam celengan plastik bebek. Digoyangkannya, sudah mulai penuh. Bibirnya tersenyum simpul.Sepertinya sesuatu yang dipikirkannya akan segera terjadi.
Belum selesai, mesin jahit bekas yang dibelinya setahun yang lalu meminta untuk dijamah.Ada beberapa yang meminta dijahitkan hari itu. Lumayan, uang 1000 masuk ke dalam celengan bebek itu lagi. Begitu seterusnya, hingga tanah tempatnya berpijak saat ini jenuh melihat perubahan yang belum menampakkan diri.
Sempat berpikir, dikhianati suami, menjajakan kue, menjahit baju orang, membuatkan kasur orang,alhamdulillah masih mampu menghidupi dan menyekolahkan ke empat anak-anaknya. Wanita tangguh, Bu Tini yang selalu nampak ceria, tak peduli pada cemoohan orang.Hanya satu doanya kala itu,“Anak-anakku tidak boleh bernasib sama sepertiku.
Sungguh, kornea matamu masih tetap jingga,tetap sendu, bersahaja, kebaikanmu dan ketangguhanmu mengalahkan semua masalah hidup itu. Satu katamu padaku,“Kalau tak bekerja seperti ini, siapa lagi yang akan menghidupimu. Tak usah gengsi, itu akan membunuhmu!”. Kan kuingat selalu petuahmu wahai wanita perkasa.

*Kisah ini terinspirasi dari tetanggaku, tepatnya di Santi, Kota Bima-NTB

Minggu, 11 Desember 2011

Telaah Berkebun Emas Perspektif Islam


Dewasa ini, ramai di kalangan masyarakat tentang berkebun emas. Tidak sedikit masyarakat yang menilai kegiatan berkebun seperti ini merupakan sesuatu yang menguntungkan dan si lain sisi tidak sedikit juga yang menganggapnya sangat merugikan, dalam artian merugikan kehidupan, karena tidak ada keberkahan di dalamnya.

Sebelumnya, perlu dipahami terlebih dahulu bagaimanakah praktik “investasi” emas. Emas sering dimanfaatkan oleh para investor sebagai alat hedging (lindung nilai) sekaligus instrumen investasi jangka panjang, hal ini dikarenakan harga emas yang relatif stabil dalam kurun waktu jangka pendek namun di lain sisi bisa mengalami kenaikan signifikan dalam jangka panjang; mengikuti atau malah melebihi tingkat inflasi.

Namun dengan tren bullish (gejala peningkatan pada bursa efek) harga emas beberapa tahun belakangan ini, banyak investor yang memanfaatkan momen tersebut untuk mendapatkan keuntungan dari jual beli emas jangka pendek. Yah, semacam menjadikan emas sebagai instrumen spekulasi.  Kegiatan ini yang kemudian dikenal sebagai berkebun emas.

Adapun sistem berkebun emas sendiri adalah dengan memanfaatkan jasa pegadaian yang disediakan oleh bank ataupun lembaga lainnya untuk memperbesar modal dalam membeli emas. Emas yang sudah ada di tangan digadaikan untuk mendapatkan modal untuk membeli emas berikutnya yang kemudian digadaikan lagi untuk mendapatkan modal untuk membeli emas dan begitu seterusnya.

Sistem seperti ini memungkinkan investor untuk membeli emas dengan modal lebih sedikit yang kemudian dijual pada saat yang tepat untuk memperoleh keuntungan jangka pendek maupun jangka panjang. Sistem ini juga menguntungkan pihak bank karena bisa meningkatkan omzet penjualan produk gadainya.

Sedikit menambahkan, bahwasannya yang dimaksud dengan berkebun emas adalah melakukan ‘investasi’ dalam bentuk emas dengan memanfaatkan skema pembiayaan gadai, baik gadai berbasis konvensional maupun gadai berbasis syariah. Fungsinya adalah untuk melipatgandakan keuntungan dengan hanya bermodal uang yang seminimum mungkin. Adapun mekanisme yang dijalani seperti berikut:

Melakukan investasi emas secara rutin sebesar 25 gram dengan asumsi harga emas 25 gram adalah Rp 9.000.000. Pada saat ini, kita punya tambahan uang sebesar Rp 3.750.000 senilai dengan gadai sebesar 80% dari harga taksir emas. Harga taksir bank Rp.300.000 pergram biaya penitipan emas Rp 2500/gram/bulan.

Perlu diketahui, taksiran nilai taksir dan kondisi sebenarnya di bank mungkin berbeda-beda, tapi yang terbaik memilih bank yang memberikan nilai gadai tinggi, biaya rendah dan waktu singkat.

Mari kita mulai perhitungannya; misalkan kita beli emas batangan antam 25 gram, lalu kita gadaikan dan kita akan mendapatkan dana segar sebesar Rp 6.000.000 (Rp 300.000 x  80% = Rp 240.000 x 25 gram = Rp 6.000.000).

Kita setor biaya penitipan emas 1 tahun sebesar Rp 750.000 (Rp 2500 × 25 × 12 bulan = Rp 750.000). kemmudian lakukan Investasi emas dengan cara:  beli emas 25 gram lalugGadaikan emasnya, dapat dana segar Rp 6jt, lalu tambah Rp 3 jt dana dari uang kita = Rp 9jt lalu beli emas lagi dengan biaya titip Rp 750.000 setahun. Setiap memiliki dana tambahan Rp 3.75 jt lalu ulangi langkah diatas lagi, begitu seterusnya sesuai kebutuhan. Kalau sudah lima kali maka posisi akan menjadi seperti ini:

1.      Beli Emas 25 gram -> Rp.6jt, tambah Rp.3 jt dana segar jadi total = 9jt -> beli emas lagi | Rp.750rb -> biaya titip.

2.      Beli Emas 25 gram -> Rp.6jt, tambah Rp.3 jt dana segar jadi total = 9jt -> beli emas lagi | Rp.750rb -> biaya titip.

3.      Beli Emas 25 gram -> Rp.6jt, tambah Rp.3 jt dana segar jadi total = 9jt -> beli emas lagi | Rp.750rb -> biaya titip.

4.      Beli Emas 25 gram -> Rp.6jt, tambah Rp.3 jt dana segar jadi total = 9jt -> beli emas lagi | Rp.750rb -> biaya titip.

5.      Beli Emas 25 gram (Emas disimpan).

Perhatikan perhitungan di atas bahwa biaya pembelian emas kedua dan seterusnya, 2/3 modal beli emas adalah dari uang bank. Dan setelah waktu berlalu, misalkan harga emas naik sebesar 30 persen, jadi emas batangan 25 gram yang kita miliki  sekarang nilainya Rp 12jt. Dan ini saatnya kita panen.

Langkah memanennya cukup dibalik saja: Juallah emas nomor 5, maka kita mendapatkan dana segar 12 jt, dana segar ini kita pakai untuk menebus 2 emas lainnya. Ulangi sampai semua emas ditebus, dan jual semuanya.

Maka posisinya sebagai berikut:

Hasil penjualan emas 5 buah x Rp 12 jt = Rp 60 jt. Tebus gadai 4 x Rp 6 jt = Rp 24 jt sisa = 36 jt à sub total 1. Berapa modal Anda?

1.      Beli emas pertama =  Rp 9 jt

2.      Beli emas ke 2 sampai ke 5 = Rp 3jt x 4 = Rp 12 jt

3.      Biaya titip Rp 750rb x 4 buah emas = Rp 3 jt

Total modal = Rp 24 jt à sub total 2

Keuntungan panen emas Anda adalah: sub total 1 – sub total 2 = Rp 36 jt – Rp 24 jt = 12 jt

Berikut ini Perbandingan keuntungan metode investasi emas biasa vs metode cerdas kebun emas dengan modal awal Rp 24 jt.

Modal 24 jt belikan emas sewaktu harga batangan 25 gram = 9jt, maka per gram berarti 360rb (Rp 24 jt : 360 rb dapat emas 66.66 gram). Ketika harga naik 30% kita jual menjadi Rp 468ribu/gram : 66.66. maka keuntungannya adalah Rp 7.196.880 (468 ribu = Rp.31.196.880 dikurangi modal 24 jt = Rp 7.196.880)

Keuntungan yang diperoleh dalam skema di atas adalah ketika harga emas pada posisi tinggi. Berbeda jika harga emas pada posisi rendah, maka tinggal mengalikan harga kerugian. Kalau harga emas turun 10 persen saja, kerugian yang harus ditanggung bisa mencapai 27 persen. Maka, hukum high risk high return (dengan resiko tinggi, tingga pula kemungkinan pendapatannya) tentunya berlaku juga dalam kasus ini.

Dari segi syariah, bisa jadi syarat sah pembiayaan gadai (rahn) sudah bisa terpenuhi secara sempurna. Tapi yang menjadi masalah adalah motif atau niat yang mendasari ‘petani pekerkebunan emas’, melihat skema di atas tentu motifnya lebih kepada spekulasi; ketika harga tinggi petani menjualnya dan tidak dengan sebaliknya. Sedangkan spekulasi dalam ekonomi islam dikenal dengan maisir (perjudian) yang hukumnya adalah haram!

Sejatinya, instrumen rahn (gadai) ada untuk membantu pihak-pihak yang sedang terdesak masalah keuangan. Sebab dalam instrumen ini banyak terkandung di dalamnya pesan tolong-menolong (ta’âwanû ‘ala al-Birri wa at-Taqwâ). Nah, praktik berkebun emas yang marak dilakukan oleh para investor dewasa ini lebih kepada praktik komersialisasi gadai; menyelewengkan konsep ta’â``wun  menjadi kegiatan yang murni profit oriented.

Maka, untuk menghindari penyelewengan tersebut dengan praktik berkebun emas, adalah sebuah keharusan bagi para pelaku ekonomi Islamkhususnya institusi keuangan seperti bank syariah, lembaga gadai syariah dsb.untuk  mengembangkan instrumen rahn dengan mekanisme yang lebih hati-hati agar tidak lantas menjadi ladang spekulasi.

Melihat kondisi pengkaburan value rahn ini, ada beberapa ulama yang kemudian menganalogikan berkebun emas dengan kasus kawin kontrak. Dalam kasus kawin kontrak, walaupun nikah yang secara simultan diikuti dengan perceraian dapat dibuat seolah-olah sesuai dengan agama, baik syarat sahnya maupun praktik perceraiannya, banyak pihak mempertanyakan niat akan tujuan yang ingin dicapai. Jika sekadar nafsu belaka yang menjadi motif, mungkinkah Allah swt. akan meridhainya?

Dr. Muhammad Arifin Badri, Pembina Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia, pernah menyinggung tentang berkebun emas ini:

Sejatinya yang terjadi pada bekebun emas hanyalah menghutangkan sejumlah emas, atau mengutangkan sejumlah uang dengan memberikan sejumlah bunga. Tidak diragukan itu adalah riba.

Terlebih lagi bila diingat bahwa sejatinya emas dan uang adalah alat tolok ukur nilai barang, dan sebagai alat transaksi, dengan demikian bila uang dan emas digadaikan dengan mengambil keuntungan maka tidak diragukan itu adalah riba.

Ditambah lagi "GADAI" hanya ada bila ada piutang, tidak mungkin ada gadai bila tidak ada piutang. Karenanya, setiap keuntungan yang didapat dari gadai adalah bunga dan itu HARAM.

Adapun menggadaikan hewan ternak yang membutuhkan perawatan, maka bila pemilik hewan ternak tidak memberi pakan kepada ternaknya, maka pemberi piutang/penerima gadai hewan berkewajiban memberi pakan. Dan sebagai gantinya ia dibolehkan mengambil susu, atau menunggangi hewan tersebut seharga pakan yang ia berkan, tidak lebih dan tidak kurang. Dengan demikian tidak ada keuntungan.

Kasus berkebun uang ini semakin mengingatkan kita bahwa umat kita benar-benar telah mengekor umat Yahudi yang melanggar aturan dan syari'at Allah dengan sedikit tipu daya dan akal-akalan.

Nah, setelah mengurai bagaimana praktik berkebun emas dan apa motif yang mendorong investor untuk melakakukan kegiatan semacam itu, dapat kita tarik satu konklusi negatif atas praktik berkebun emas ini. Tidak ada lagi keberkahan yang seharusnya tercermin dari instrumen rahn dengan praktik tersebut. Wallâhu a’lamu bi ash-Shawâb... (rik)

Sabtu, 10 Desember 2011

Matrikulasi Akhwat; Isi Tahun Baru Hijriah dengan Muhasabah


Bogor – Tahun baru Hijriah merupakan sebuah momen di mana kita sebagai umat muslim berlomba-lomba untuk memperbaiki diri, berlomba-lomba untuk mencapai ridho Illahi, dan senantiasa berusaha untuk menjadi insan yang istikamah dalam menghadapi berbagai tantangan dakwah yang dewasa ini sedang kita hadapi. Mendengar kata tahun baru atau seringkali disebut dengan “new year” saat ini sangat identik dengan perayaan pesta kembang api, hura-hura, dan seluruh tempat-tempat hiburan berlomba-lomba untuk membuat acara semenarik mungkin untuk menarik minat para penikmat tahun baru untuk ikut bergabung dalam berpesta pora.

Acapkali kita seringkali salah mengintepretasikan apa itu tahun baru? Tahun baru dapat kita jadikan momen untuk muhasabah diri, tapi mengapa saat ini banyak sekali orang yang hanya sekedar merayakan kedatangannya dan menyambut dengan meriah kedatangannya tanpa mereka sadari mereka telah melawati satu tahun penuh yang belum tentu dilalui dengan sebaik-baiknya.

Melihat fenomena yang terjadi saat ini, maka BIMM (Badan Independen Mahasiswi Matrikulasi) Akhwat 2011 mengadakan acara yang kreatif dan inovatif dengan nama MOCA (Muharram on Colorful Activity) dan mengambil tema “Explore and Eexpose Our Talent to Be Experienced Teenagers”. BIMM akhwat berusaha mengemas momen ini untuk menyambut kedatangan tahun baru hijriah dengan hal-hal baik dan yang lebih positif.

Acara yang dimulai pada hari Senin tanggal 28 November 2011 hingga malam puncak tanggal 30 November 2011 berjalan dengan lancar. Kegiatan yang diselenggarakan pun dikemas secara menarik. Pada hari pertama kegiatan MOCA, dimulai dengan acara workshop mengenai “Pakaian Syar’i dan Tidak Syar’i” kemudian dilanjut dengan kajian “Etika Seorang Wanita Muslimah” dengan pembicara Ustadzah Ngatini, salah satu Pembina Akhwat.

Para pengurus BIMM, dibantu dengan para anggota BIMM yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, mensosialisasikan pakaian muslimah yang baik dengan membuat konsep sebuah drama. Alhasil, para anggota BIMM tak hanya menikmati hiburan yang disajikan saja tapi mereka pun bisa mengambil ibrah (pelajaran) yang dapat dipraktekan di dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Hari kedua dari kegiatan ini diadakan pada tanggal 29 November 2011, kegiatan yang diselenggarakan berupa kompetisi antar kelas akhwat yang diikuti oleh empat kelas dimulai dari kelas A sampai dengan kelas D.

Para mahasiswi sangat antusias mengikuti acara ini, beberapa lomba sengaja diadakan dengan harapan akan meningkatkan integritas antar sesama anggota BIMM, pengurus BIMM, maupun para pembina asrama akhwat. Lomba-lomba yang diadakan adalah Lomba LCTI (Lomba Cepat Tepat Islam), MTQ, MHQ, Kaligrafi, Pidato Bahasa Arab, Pidato Bahasa Inggris, dan Debat.

Dukungan yang datang dari suporter antar kelas, memberikan semangat untuk setiap perwakilan kelas yang sedang berkompetisi dalam lomba. Alhasil beberapa kejuaraan mampu mereka raih. Di antaranya:

-          Kelas A berhasil menjuarai beberapa lomba seperti: Debat, Kaligrafi, MTQ, dan Pidato Bahasa Inggris.

-          Kelas B berhasil menjuarai Lomba Pidato Bahasa Arab yang diwakili oleh Aisyah Batu Bara.

-          Kelas C berhasil menyambet 2 piala, yakni kejuaraan LCTI dan Hifdzul Qur’an.



Rabu 30 Desember 2011, Gedung Ibnu Khaldun, adalah puncaknya acara setelah melewati rentetan acara selama 2 hari. Acara ini dihadiri oleh seluruh mahasiswi matrikulasi dan pembina akhwat (Darti, Tini, Zaki, dan Suryani Wulandari). Kegiatan dimulai bakda isya, diisi dengan acara pengumuman para pemenang lomba dan beberapa pemnampilan seni, seperti teater, japanesse klub, nasyid, dan klub tari daerah. Selain itu, ada penampilan pidato bahasa Thailand yang dibawakan oleh Afnan dan Asri, mahasiswi matrikulasi asal Thailand.Acara berlangsung sekitar dua jam dan berakhir pada pukul sepuluh malam.

Melihat ghirah (semangat) yang kuat dan kesungguhan para mahasiswi dan seluruh pengurus BIMM hingga membuat Azzahra Hidayat (Ketua BIMM Akhwat angkatan 11) berdesis kagum, “Subhanallah aku jadi semangat melihat antusias anak-anak dan kinerja seluruh pengurus.” Terangnya.

Maka dari itu mari kita sambut tahun baru hijriah dengan bermuhasabah, tidak untuk merayakannya karena pada dasarnya semua hari dan bulan adalah sangat berarti bagi setiap muslim jika hari-harinya dilalui dan diiringi oleh ibadah yang ihsan.
Koresponden Matrikulasi: Adita Dyah Asokawati

Solidkan Ukhuwah; Selenggarakan Acara Khatmil Qur'an


Rabu sore (30/11), mahasiswa Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia Angkatan X menyelenggarakan kegiatan Khatmil Qur’an. Bertempat di masjid Andalusia Islamic Center, acara ini berlangsung selama kurang lebih satu jam. Dimulai seusai salat asar dan berakhir pada pukul 16.40.
Menurut Sebastian Herman, ketua Angkatan sekaligus koordinator acara, kegiatan ini dimaksudkan selain untuk ibadah juga untuk keselamatan dan kesabaran Angkatan X atas segala cobaan yang pada beberapa bulan terakhir sering menimpa Indonesia secara umum, dan Angkatan X secara khusus.
Demi suksesi acara, Sebastian dan Tedhy Dwiasta (Ketua dan Wakil Ketua Angkatan) berkoordinasi dengan semua ketua kelas untuk membagi seluruh angkatan, ikhwan maupun akhwat, menjadi 30 kelompok sesuai dengan jumlah juz Al-Qur’an tiap kelompoknya.
Acara kemudian ditutup dengan doa dan sambutan dari Sebastian Herman. Pada kesempatan itu, Sebastian menyinggung tentang pentingnya membaca Al-Qur’an, bahwa orang yang hanya mendengar bacaan al-Qur’an saja akan dirahmati oleh Allah apalagi bagi orang yang membacanya.
Sebastian juga berharap, kegiatan positif semacam ini bisa menjadi motivasi Angkatan X untuk lebih mendakat diri kepada Sang Khalik, dan menjadi kegiatan yang dapat mempererat tali ukhuwah antar sesama Angkatan X.
“Tetap kompak, dan tetap jaga rasa kebersamaan.” Tutup Sebastian. (a6)
 

Jumat, 02 Desember 2011

WISUDA VII Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia


SATUNOL SENTUL CITY BOGOR - Hari Sabtu 19 November 2011 merupakan hari yang bersejarah bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia yang berjumlah 1381 mahasiswa, terutama bagi para mahasiswa angkatan VII yang tengah melaksanakan wisuda. Bertempat di Al Hambra Multifunctional Hall Andalusia Islamic Center, Sentul City, acara tersebut dimulai pada pukul 08.00 pagi dan selesai pada pukul 11.30 menjelang waktu Dzuhur. Acara wisuda tersebut dihadiri oleh 89 wisudawan dan wisudawati, orang tua, wali, keluarga wisudawan, serta para tamu undangan.
Dalam rangkaian acara wisuda, Bapak Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec. selaku rektor memberikan sambutan mengengenai pentingnya peranan mahasiswa lulusan STEI Tazkia. Beliau juga menyinggung tentang krisis global yang berkelanjutan sejak tahun 2008. Berawal dari bangkrutnya Negara Yunani hingga mengglobal dan merambah kawasan Negara adidaya Amerika Serikat. Bahkan akhir-akhir ini terjadi Wall Street Occupation, yaitu dikuasainya kawasan Wall Street di Amerika Serikat oleh para pemuda, yang mana kawasan tersebut merupakan simbol dari perekonomian kapitalis dunia Barat.
Di akhir sambutannya, beliau menyampaikan bahwa saat ini Indonesia masih berada pada tingkat korupsi yang sangat tinggi, yaitu 50 % dalam setiap lembaga-lembaga milik Negara. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya budaya jujur dan amanah dalam menjalankan tugas. Maka, diharapkan para wisudawan angkatan VII selepas masa studinya di STEI Tazkia, dapat berperan penting dalam membangun karakter yang memiliki value Tazkia (Tauhid, Amanah, Zero Defect & Quality, Knowledge and Competence, Innovative and Istiqomah, Achievement Through Teamwork), sehingga dapat menjadi pribadi yang Sholeh, Pandai, Kaya, dan Keren (SPK2). “Ini merupakan awal dari dunia pengabdian dan dunia sesungguhnya, hadzihi bidayatun nihayah. Kata Beliau di akhir sambutannya.
Kemudian acara dilanjutkan dengan pengukuhan wisudawan dan wisudawati satu persatu. Para wisudawan yang terbagi dalam tiga jurusan, yaitu Bisnis dan Manajemen Islam (BMI), Akuntansi Islam (AI), dan Ilmu Ekonomi Islam (EI), dikukuhkan oleh Rektor STEI Tazkia, dan dilanjutkan dengan ikrar wisudawan yang dipimpin oleh utusan dari wisudawan. Prosesi wisuda diselingi dengan lagu-lagu nasyid yang dilantunkan oleh tim nasyid mahasiswa STEI Tazkia yang berjumlah 12 orang.
Di penghujung acara, Deputi Kementrian Perumahan Rakyat, Bapak Sri Hartoyo, sebagai tamu undangan, menyampaikan orasi ilmiahnya kepada seluruh tamu undangan dan wisudawan. Tema yang diusung oleh beliau adalah “Sinergi Perguruan Tinggi dan Industri Keuangan Syariah dalam Pembangunan Perumahan Rakyat di Indonesia”.
Usai orasi ilmiah dari Deputi Kementrian Perumahan Rakyat, Rektor STEI Tazkia memberikan penghargaan kepada mahasiswa yang mendapat predikat cumlaude dan summa cumlaude kepada wisudawan dan wisudawati setiap jurusan. Dan penghargaan khusus diberikan kepada wisudawan dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) tertinggi untuk setiap jurusan. IPK tertinggi dari jurusan Bisnis dan Manajemen Islam diraih oleh Dewi Arimbi Oktovi dengan IPK 3,74. Untuk jurusan Akuntansi Islam diraih oleh Aurora Nur dengan IPK 3,90. Sedangkan IPK tertinggi untuk jurusan Ilmu Ekonomi Islam, sekaligus IPK tertinggi wisuda ke-7 STEI Tazkia diraih oleh Zakiyyah Dwi Putri, dengan IPK 3,97. Dan penghargaan mahasiswa terbaik diberikan kepada Hilman Fauzi Nugraha, dari jurusan Ilmu Ekonomi Islam, dengan IPK 3,94. Dan bagi wisudawan terbaik, mendapat reward khusus dari Rektor STEI Tazkia berupa paket umroh gratis. (BAZ)

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes